Mantan Teroris ISIS asal Kaltara, Fitri Zulkarnain (Kaka) menjadi narasumber program Deradikalisasi di Hotel Lotus Panaya Lt. 6, Kota Tarakan, Sabtu 2 Maret 2024.
Satu jam lalu, saya menerima pesan singkat yang memuat berita kegiatan acara SUDARA (Suara Damai Nusantara) yang digelar oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) bersama FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Kalimantan Utara, diselenggarakan pada hari Rabu 4 Juni 2025. Acara yang tentunya tak tepat sasaran itu pun ditulis dengan beragam judul oleh beberapa media.
Dari sekian banyak liputan, ada salah satu judul yang membuat saya tergerak untuk segera menulis tanggapan ini. Tajuk itu bertuliskan : “Tangkal Radikalisme Melalui Seni Budaya” yang diterbitkan oleh media Antara News Kaltara. Anda bisa melihat berita utuhnya disini:
https://kaltara.antaranews.com/berita/515597/tangkal-radikalisme-melalui-seni-budaya
Apa yang dilakukan BNPT dan FKPT Kaltara dalam program ini bukanlah sebuah upaya pencegahan, tapi pelarian dari realita. Mereka (BNPT dan FKPT) dengan sangat pasti dan meyakinkan berpura-pura lupa bahwa radikalisasi lahir dari pemikiran tentang arti tujuan hidup. Ia tumbuh dari internet yang dikuasai propaganda dan minimnya wadah berdialog, bukan dari kurangnya festival hiburan.
Sebagai mantan pelaku terorisme yang berperan mengorganisir media propaganda ISIS untuk wilayah Indonesia, mungkin memang akal saya yang tak sampai mengingat program ‘Lomba Seni’ ini justru dijalankan oleh lembaga yang ditugaskan untuk ‘mencegah/menangkal’ gerakan terorisme.
Dalam redaksi yang diterbitkan oleh media berita Antara News Kaltara tertulis:
“Program SUDARA merupakan respons atas meningkatnya fenomena radikalisasi di kalangan pelajar dan mahasiswa, dipicu oleh lemahnya literasi digital, terbatasnya ruang ekspresi damai, dan minimnya dialog lintas budaya.”
Poin ini sebenarnya benar tapi solusi yang diambil tentu “nda nyambung.” Kalau masalahnya adalah literasi digital, maka mengapa tidak dibuat semacam peningkatan literasi, misalnya cara mendeteksi apakah sebuah narasi itu benar, hoax atau hanya propaganda, atau simulasi rekrutmen radikal dan cara pencegahannya. Langkah ini justru lebih ‘mengena’ apalagi dengan adanya dialog debat terbuka, mentoring, dan studi lapangan.
Kemudian, paragraf berikutnya:
“Lomba ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya kita dalam mencegah masuknya ideologi radikal dan intoleran, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Melalui seni dan budaya, kita ajak generasi muda membangun daya tangkal terhadap segala bentuk provokasi ekstrem,” kata H. Datu Iqro Ramadhan, S.Sos., M.Si., Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltara.
Saya heran, bagaimana bisa lembaga “sekelas” BNPT dan FKPT bisa kepikiran mengadakan lomba seni sebagai upaya pencegahan pemikiran ekstrim di kalangan anak muda?
Atau diharapkan justru agar para pemuda dalam lomba seni ini bisa “terbuai” dan berhenti kritis bertanya mengapa di belahan dunia ini ada banyak anak-anak seusia mereka justru berlomba ingin berangkat perang memasang bom di badan mereka?
Dalam dunia kriminal, jadi teroris merupakan satu hal yang cukup prestisius (bergengsi) bagi para pemuda yang haus secara spiritual. Menurut catatan BNPT, teroris dibawah umur 30 tahun di Indonesia mencapai 59%. Anda bisa baca selengkapnya melalui link di bawah ini:
Ada sebuah kutipan yang mendorong saya segera membuat tulisan ini:
Ketua FKPT Kalimantan Utara, Ranoesty Liling, menekankan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata dari upaya menumbuhkan kesadaran toleransi sejak dini. “Kita ingin membekali peserta dengan pemahaman kritis terhadap narasi kekerasan, hoaks, dan ujaran kebencian. Mereka harus mampu menghargai keberagaman sebagai kekayaan bangsa,” ungkapnya.
Pernyataan ini akan saya jawab dengan:
Sebagian besar para pelaku terorisme tidak pernah bermasalah dengan adanya perbedaan, suku, ras, atau agama.
Seandainya saja pak Ranoesty ini mau meluangkan sedikit waktunya untuk lebih meneliti, maka betapa banyak ‘pelaku bom’ justru berteman baik terhadap orang-orang yang berbeda pandangan atau agama dengan mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa program menangkal radikalisme lewat seni budaya ini sangat jauh dari tujuan pencegahan. Bahkan sebagai panitia penyelenggara, beliau tidak kepikiran mengundang saya dalam acara ini untuk ‘berbagi tips’ menangkal pemikiran radikal.
Dalam proses mengkader para pemuda menjadi militan ISIS, saya justru lebih sering melakukan “pencucian otak” ini di meja kelab malam sambil menuangkan alkohol untuk mereka. Apakah para pemuda ini sebelumnya bermasalah dengan tuhan yang berebda? Apakah para pemuda ini kehidupannya sulit dan miskin? Mestilah sebaliknya. Atau, pertanyaan yang paling mendasar, apakah para pemuda yang ‘menjadi target’ para teror dapat ditangkal dengan lomba yang baru saja diselenggarakan oleh gabungan BNPT dan FKPT beberapa jam yang lalu?!
Pada akhir tulisan ini, sengaja saya menyelipkan satu mahakarya (nama alias saya saat berkarir di ISIS saat itu adalah Abu Hasan Al Burni) yang telah dijadikan dokumenter oleh tim Narasi Newsroom, dengan judul “Bagaimana Strategi Propaganda Online Kelompok Teror di Indonesia?.”
Anda dapat menonton full video YouTube-nya di bawah ini:
Sebagai penutup, jika BNPT dan FKPT benar-benar serius ingin mencegah radikalisme, maka mulailah dari akarnya, bukan malah buat acara akrobat panggung yang hanya menyisakan dokumentasi laporan kegiatan. Undanglah mereka yang pernah salah arah namun berhasil kembali dan ingin memberi ingat pada generasi selanjutnya sebagai bentuk pengabdian pada bangsa Indonesia yang kita cintai.
Salam,
Fitri Zulkarnain (Kaka) di Tanjung Selor
Kamis 5 Juni 2025 pukul 4:14 dini hari.
DAPAT BONUS senilai Rp 1.000 - Rp 10.000
setelah baca postingan di atas
dengan menyalin Kode Traffic di bawah ini
2TXR22
...sedang mengarahkan Anda ke halaman Bonus Area