Tiga tahun setelah insiden salah tembak, Hasnah kembali harus menjalani perawatan di RSUD dr Jusuf SK Tarakan. Kondisinya belum pulih sepenuhnya sejak peristiwa penembakan pada September 2022. Beban ekonomi keluarga ikut memburuk karena keduanya tak lagi bekerja.
Hasnah, warga RT 21 Perumahan PNS Blok C, Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara, kembali terbaring di RSUD dr Jusuf SK Tarakan, Kamis (18/12/25). Ia mengaku masih keluar-masuk rumah sakit sejak kejadian penembakan yang menimpanya pada 27 September 2022.
“Sejak kejadian tiga tahun yang lalu sampai hari ini, saya masih keluar masuk rumah sakit karena belum sembuh total akibat tembakan yang kami alami pada bahu tembus ke paru-paru dari bahu ke pinggang,” ujar Hasnah. Kondisi tersebut membuatnya tak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya. Situasi keluarga kian berat karena suaminya, Alvin, juga kehilangan pekerjaan.
“Sejak kena tembak salah sasaran tiga tahun yang lalu oleh oknum Polisi A, kami hanya bisa terbaring di rumah dan tidak bisa lagi bekerja menafkahi anak-anak saya. Suami saya juga dikeluarkan dari tempat bekerja,” kata Hasnah.
Ia menyebut, pada awal kejadian oknum polisi berinisial A sempat memberikan kompensasi sebesar Rp20 juta. Namun dana tersebut habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Hasnah mengaku kecewa karena meski ada kesepakatan pengobatan akan ditanggung, biaya perawatan tetap ia bayar melalui BPJS Mandiri miliknya.
“Harapan saya agar kami dapat sembuh kembali dan oknum tetap harus tanggung jawab mulai pengobatan sampai biaya hidup sehari-hari,” ucapnya.
Alvin membenarkan adanya kesepakatan bahwa seluruh biaya pengobatan istrinya ditanggung oleh pihak pelaku hingga pulih sepenuhnya. Namun, komunikasi disebut terputus. “Kami sudah sepakati bahwa seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh pihak pelaku A sampai istri saya sembuh dan pulih seratus persen. Tapi kenyataannya sampai hari ini tidak ada lagi komunikasi,” tegas Alvin.
Ia juga menyesalkan diterbitkannya surat keterangan sembuh atas nama istrinya tanpa sepengetahuan keluarga. “Saya juga menyesalkan kepada oknum pelaku, kenapa sampai mengeluarkan surat keterangan sembuh kepada istri saya tanpa sepengetahuan keluarga kami,” katanya.
Keluarga korban, H. Dahlan, menyatakan keprihatinan atas kondisi Hasnah dan keluarganya. Ia berharap oknum pelaku tetap bertanggung jawab dan mendorong penyelesaian secara kekeluargaan. “Kita prihatin melihat keadaan keluarga mereka. Untuk kehidupan sehari-harinya saja mereka susah, ditambah lagi dengan biaya keluar-masuk rumah sakit,” ujarnya.
Ia berharap ada itikad baik untuk membantu pemulihan korban. “Mohon dengan besar hati untuk memberikan biaya hidup sampai pulih dan sembuh,” kata H. Dahlan.
Laporan Abdul Rahman
Anda akan otomatis menuju ke halaman Bonus Area setelah menyalin Kode Traffic di bawah ini
2RU9N6