Dalam rangkaian agenda jaring aspirasi masyarakat, tokoh muda Adyansa kembali turun langsung menemui warga di kawasan Tarakan Barat pada Minggu (16/11). Pertemuan yang berlangsung santai namun serius itu dihadiri puluhan warga dari berbagai RT, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir.
Dalam dialog tersebut, sejumlah persoalan krusial kembali mencuat. Salah satu yang paling sering disampaikan warga adalah masalah tumpang tindih lahan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Banyak warga mengaku kesulitan mengurus legalitas tanah karena batas wilayah dan status kepemilikan tidak pernah benar-benar diperjelas.
“Kami mau bangun rumah saja takut, karena sewaktu-waktu bisa diklaim orang lain. Harapan kami ada kepastian hukum,” ujar salah satu warga.
Selain isu pertanahan, warga juga menyoroti kondisi UMR yang dinilai belum sebanding dengan biaya hidup di Tarakan. Mereka berharap adanya dorongan agar struktur upah bisa menyesuaikan kebutuhan dasar masyarakat.
Tak hanya itu, warga pesisir turut menyampaikan keluhan soal akses air bersih, penerangan, dan kondisi jalan lingkungan yang masih jauh dari memadai. Beberapa nelayan juga meminta dukungan perlengkapan keselamatan dan fasilitas tambat perahu.
Menanggapi aspirasi tersebut, Adyansa menegaskan bahwa seluruh masukan warga akan diinventarisasi dan dibawa dalam pembahasan tingkat kebijakan.
“Aspirasi ini bukan sekadar catatan, tapi bahan kerja kami untuk menyusun program yang lebih tepat sasaran. Masalah lahan, kebutuhan pesisir, dan persoalan ekonomi harus diselesaikan lewat kebijakan yang jelas,” tegasnya.
Kegiatan serap aspirasi ini merupakan bagian dari komitmen Adyansa untuk mendekatkan diri dengan warga serta memastikan bahwa arah pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat di tingkat paling bawah.
Anda akan otomatis menuju ke halaman Bonus Area setelah menyalin Kode Traffic di bawah ini
5V47XU