Penulis: Agung Janumat Rifai (Kabid PTKP HMI Komekora)
Hidup dimasa-masa yang sulit bukanlah menjadi impian semua manusia, kecuali ada sekelompok manusia lainnya yang menginginkan hal tersebut terjadi. Peristiwa ini disebut sebagai kesalahan dalam pengambilan keputusan. -Anak Abah-
Momentum 2024 menjadi penentu bagi sebuah bangsa untuk keluar dari keterpurukan dan ketidakadilan atau melanjutkan kondisi semengerikan itu. Namun sayangnya, sekitar 90an juta lebih orang tetap ingin berada dibawah kekuasaan yang keji dan semena-mena terhadap sekitarnya. Barangkali keluar dari jeratan, malahan saya menyebutnya ini sebagai pengambilan keputusan terburuk sepanjang pasca reformasi. Dimana ketika terangnya latar belakang dari pasangan Prabowo dan Gibran yang tidak lepas dari hal-hal kontroversial seperti, Terlibat sebagai pelanggar Hak Asasi Manusia, Menggunakan APBN untuk mendongkrak jalan kemenangan dan mengubah peraturan untuk bisa berkompetisi adalah salah satu aib pada bangsa ini.
Jauh sebelum berbicara tentang kebobobrokan rezim yang telah berjalan, Saya teringat dengan sebuah pepatah mengatakan, bahwa “Sesuatu hal yang dimulai dengan keburukan, pula akan berakhir dengan hal-hal yang buruk”. dan dari sini kita dapat mengevaluasi diri sendiri, bahwa keburukan itu bukanlah hanya sekedar espektasi atau kata-kata semata melainkan jauh lebih buruk dari yang kita perkirakan semenjak 1 Tahun lebih berkuasanta mereka di Ibu Pertiwi.
Koalisi Indonesia Maju atau KIM bukan hanya sebagai aliansi politik terbesar di era ini, ia juga menjadi kendaraan politik tersadis yang bukan hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan, melainkan sebagai alat untuk melindas semua orang yang mengahalanginya. Terbukti dari sekita 30% perjalanannya telah memporak-porandakan seisi negeri secara beringas dan tak henti-henti. Tidak hanya kerusakan secara fisik tetapi juga menusuk hingga secara moral dan tekanan para warganya.
Dimulai dari eksploitasi besar-besaran terhadap lingkungan, Proyek Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah putih yang tak kelihatan hilalnya, Kehilangan moral para pejabat publik dan begitu banyak lagi kerusakan yang dilakukan oleh Presiden kita yang disebut sebagai pelanggar HAM itu.
ASTA CITA, 8 misi utama Prabowo untuk 2024-2029 begitu indah ketika didengar dan dibayangkan tetapi sulit untuk kita berbicara realita lapangan. Karenanya dari seluruh misi utama itu tak satupun berdampak nyata lagi baik untuk dirasakan sekarang. Alih-alih tercapai, justru semuanya terlihat bertentangan dengan apa yang mereka ucap, tulis dan lakukan. Saya coba rangkum secara singkat, bayangkan ketika misi utamanya untuk penguatan ideologi negara, Justru pemimpin kita memilih untuk bergabung para zionis di Board of Peace bentukan Donald Trump yang jelas-jelas tujuannya untuk memperkuat posisi Israel untuk menginvasi Gaza secara besar-besaran. Hal ini tentu melanggar dari cita-cita konstitusi kita sendiri pada pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa”. Tatkala untuk membela, justru ini adalah keputusan paling konyol dalam sejarah Geo-Politik di Indonesia.
Tak cukup hanya satu paragraf, Justru ketika menceritakan rezim ini, layaknya saya bisa membuat 1 buku dengan ratusan halaman sekaligus bahkan tanpa harus melihat referensi-referensi yang beredar.
Karena ini bukan hanya tentang kebobrokan,tetapi ini adalah kisah pilu bagi seluruh rakyat yang sadar akan terbelenggunya mereka dengan mereka pemegang kuasa yang semena-mena terhadap orang yang memilihya dulu dibalik bilik kota suara. Saya lanjut tentang misi bualannya, kali ini singkat dan mencerminkan secara keseluruhan. Sebut saja kemandirian ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, pemerataan pembangunan, reformasi hukum, kerukunan lingkungan dan lain-lain, apa yang sudah bisa kita rasakan sebagai warga negara kecuali itu hanya janji palsu yang kemudian justru mendiskreditkan kita secara perlahan.
Berbicara tentang kemandirian ekonomi, peran negara seperti apa yang perlu kita apresiasi disaat kemampuan keuangan negara hanya berharap 3/4 pada pajak rakyat? alih-alih untuk mengapresiasi, justru mereka lebih sibuk untuk memperluas akses-akses baru untuk pajak bukan untuk membuat sebuah lapangan pekerjaan dan mulai produksi besar-besaran didalam negeri.
Saya sangat khawatir, jikalau negara kita melekat dengan kata negara “Konsumen” dan saya rasa semua sepakat ketika negara harus merubah model itu sebelum menuju satu abad pasca kemerdekaan.
Disisi lain, Pengembangan SDM, Pemerataan Pembangunan dan Kerukukan Lingkungan adalah sebagian banyak kebohongan Prabowo. Mungkinkah mereka peduli pada kualitas SDM kita, dikala rata-rata IQ Nasional kita setara dengan seekor Simpanse dewasa, atau mereka ingin membahas tentang pemerataan pembangunan disaat Sentralisasi itu masih terjadi secara terang-terangan disaat pulau-pulau diluar selain Jawa sebagai objek eksploitasi secara sadar untuk gedung-gedung tinggi disana? saya pikir pemimpin negara kita tidak pernah belajar dari kesalahannya.
Saya membawa kalian semua berimajinasi tentang reformasi hukum di Negeri ini, bayangkan bagaimana bisa kita berharap kepada mereka yang jelas-jelas melanggar hukum untuk membuat negara kita ini tunduk pada hukum berlaku, ini adalah kejenakaan yang secara sadar menjadi bahan lelucon kita setiap hari. Justru dbawah rezim ini dapat kita sebut mengotak-atik hukum sesuai dengan kemauan mereka dan saat ini pantas Indonesia disebut sebagai negara kekuasaan. Tahanan Politik dimana-mana untuk mengurangi oposisi atau mereka yang lantang bersuara, Penculikan, Pembunuhan bahkan semuanya mereka lakukan untuk duduk tenang di singgasana kebiadabannya.
Jelas-jelas daya rusak mereka menghantam rakyat secara bertubi-tubi, sehingga kita dibuat bingung untuk mengawal isu yang mana dari berbagai banyak rentetan kesalahan yang dipamerkan.
Terlebih persoalan program kerja utama mereka, yaitu Makan Bergizi Gratis atau sebut saja MBG, bayangkan penganggaran proyek ini mengeluarkan sekitar 1 Triliun lebih perhari dan Setahun bisa bisa menghabiskan Ratusan Triliun. Bagaimana tidak boncosnya APBN kita ketika mereka mengelontorkan begitu saja tanpa berpikir panjang. Saya tidak berbicara tentang anak-anak apalagi makan gratis, tapi ini tentang keadilan prioritas. Seperti yang saya katakan, negara ini butuh cerdas melalui fasilitas pendidikan yang memadai dan negara ini butuh kesiapan akses kesehatan terpadu untuk merawat generasi emas. Bagaimana tidak, IQ Nasional kita sangat rendah, tingkat kemiskinan sangat tinggi, banyak anak yang putus sekolah dan terutama kita jauh dari kata sejahtera. Malahan negara menghamburkan untuk proyek tidak masuk diakal sehat.
Berbicara tentang anggaran, Saya pikir dan bahkan kita semua MBG menjadi lahan bisnis Prabowo dan alat politiknya untuk di periode berikutnya (kalau masih hidup).
Terpampang jelas, bahwa SPPG atau kita sebut penyedia dapur MBG adalah rata-rata mereka yang memiliki afiliasi partai politik dan punya kedekatan dengan Prabowo. Salah satunya adalah Gerindra. Dan bukan hanya itu, alat negara bahkan dijadikan sebagai alat mereka untuk berkuasa, dengan berdirinya 1000 lebih SPPG Polri kini sudah nampak jelas bahwa ini bukan hanya sekedar program kerja melainkan bentuk nyata tipu daya Prabowo. Hal ini pun di konfirmasi juga oleh Kepala BGN, dimana beliau mengatakan “bahwa kita telah mencetak sejarah karena telah berhasil mengeluarkan anggaran yang besar untuk program MBG ini”. Tak hanya habis disitu, TNI juga ikut andil dalam mega proyek bisnis rezim ini, melalui Koperasi Merah putih, TNI ditugaskan untuk mengelola 80.000 lebih Koperasi merah putih yang bahkan sampai saat ini fisiknya entah dimana. Bahkan kehadirannya pun disebut-sebut akan mematahkan dominasi seperti Indomaret dan Alfamart. Peristiwa Ini adalah kelicikan dan kejahatan yang tersistematis, bukan tentang 19 juta lapangan pekerjaan apalagi Kesejahteraan rakyat, mereka hanya berpikir tentang diri sendiri dang orang-orang sekolam.
Ketika hari ini, Prabowo dengan segala kekuatannya berkuasa, begitu kecil celah untuk mendapatkan sebuah keadilan dan kenyamanan dalam negeri. Sudah semestinya mereka memasang barrier untuk melindungi pemimpinnya dengan slogan, ‘asal bapak senang’ dan ini terbukti terjadi di Zaman kita. Ketika orang-orang menganggap bahwa Prabowo dibodohi oleh bawahannya (para menteri dan pejabat), saya mengiranya ini adalah drama jahat mereka untuk mengelabuhi rakyat, seakan-akan masih ada harapan simpati rakyat kepada Prabowo, dan saya dalam peristiwa ini masih sadar, saya tidak bodoh dan yang bodoh adalah Prabowo dan Para Rezim laknat yang berada di kursi kekuasaan saat ini.
Saya sadar, melalui tulisan ini tidak berdampak apapun terhadap kondisi negara, apalagi dibaca oleh mereka yang berkuasa.
Tetapi ini adalah dukungan moral, bahwa dari ratusan juta orang di Indonesia, melalui tulisan ini, saya masih berada dibarisan sadar atas peristiwa politik kelam di negeri kita tercinta. Mungkin tulisan hanya, sekedar tinta hitam diatas putih, tetapi ketika ini menjadi kesadaran kolektif ia bisa menjadi sebuah gerakan besar lagi revolutif. Jangan berhenti untuk bersuara, karena dari mereka yang bersuara lantang akan membuat mereka gemetar bahwa kita segera melakukan sebuah perlawanan sebelum semuanya hanyut tenggelam. Biarlah hari ini mereka membuat kerusakan di muka bumi, membiarkan anak-anak terbunuh mati kelaparan, memungut pundi-pundi kekayaan yang bukan miliknya, semena-mena terhadap sekitar, tapi niscaya, bahwa semakin kita ditekan bahwa semakin kuat perlawanan.
Dan…. Dari semua ini, negara kita sudah tidak baik-baik saja, mereka sudah mengubahnya sebagai zona bisnis mereka dan seakan-akan negara miliknya. Hanya ada satu kata, LAWAN!!!.
-AGUNG JANUMAT RIFAI –
Sumber: Rilisan, Nyala (fz)
DAPAT BONUS senilai Rp 1.000 - Rp 10.000
setelah baca postingan di atas
dengan menyalin Kode Traffic di bawah ini
JAV4G8
