Skip to content
Primary Menu
  • Beranda
  • Pengumuman
  • Kabar
    • Utama
      • Breaking News
      • Advertorial
      • Wilayah
        • Kaltara (Kalimantan Utara)
          • Bulungan
          • Tarakan
          • Nunukan
          • Malinau
          • Tana Tidung
        • Kaltim (Kalimantan Timur)
        • IKN (Ibu Kota Nusantara)
        • Nasional
        • Mancanegara
    • Berita
      • Politik
      • Ekonomi
      • Headline
      • Hukum
      • Kriminal
      • Acara
    • Eksternal
      • Budaya
      • Konspirasi
      • Wisata
      • Sejarah
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Teknologi
      • Pendidikan
      • Otomotif
      • Musik
      • Opini
      • Religi
  • Sosial
    • Prestasi
    • Politikus
    • Pengusaha
    • Penulis
    • Musisi
    • Influencer
  • Fokus
    • Komunitas
    • UMKM
    • Loker (Lowongan Kerja)
  • Home
  • 2026
  • Maret
  • 6
  • Sulitnya Jadi Anak Skena di Perbatasan
  • Kalimantan Utara
  • NYALA
  • Penulis

Sulitnya Jadi Anak Skena di Perbatasan

rilisan.id 2026-03-06
VideoCapture_20260306-090715

Bagi teman-teman muda di kota besar, konser adalah obat. Ia menjadi pelarian dari burnout, kecemasan, dan padatnya rutinitas. Di tengah macet dan target kerja, mereka bisa menebus lelah dengan tiket masuk venue, berdiri di antara kerumunan, lalu pulang dengan suara serak, hati lega riang gembira.

Tapi realitas itu terasa jauh berbeda bagi kami yang tinggal di daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan 3 Negara Malyasia, Brunei Darussalam dan Filipina.

Renungan ini lahir dari daerah dengan jumlah penduduk terkecil ke 2 di Indonesia yaitu Kabupaten Tana Tidung merupakan sebauah daerah di Provinsi Kalimantan Utara wilayah yang lebih dekat ke Malaysia daripada ke Jakarta. Di sini, menjadi “anak skena” adalah pengalaman yang berbeda.

Skena bagi kami bukan sekadar trend, tapi upaya merawat kewarasan. Ia adalah perpaduan antara streetwear, tongkrongan, playlist baru, brand baru, merchandise band kesayangan, dan keinginan berdiri di atmosfer event.

Masalahnya, panggung itu jarang kami lihat. Bahkan untuk sekadar mendengarkan lagu, ketika jaringan internet bermasalah, mood yang sudah dibangun bisa runtuh seketika. Ironisnya, saya teringat lirik lagu yang dinyanyikan oleh Rano Karno dalam serial “Si Doel Anak Betawi”, “Anak Betawi ketinggalan zaman katanye.”

Pertanyaannya, jangan-jangan bukan hanya anak Betawi yang dituduh tertinggal. Anak-anak muda di daerah yang berbatasan langsung dengan 3 negara sekaligus ini justru lebih terasa jaraknya dari pusat hiburan dan industri kreatif nasional.

Di sini, pagelaran hiburan musik sering hadir dalam bentuk konser gratis saat Hari Ulang Tahun daerah. Kami bersyukur, tentu saja. Tapi event berbayar yang terkurasi dengan baik masih sangat langka. Line up sering kali dari roads selera generasi Boomers dan generasi X, sedang populasi yang sedang tumbuh subur adalah milenial, Gen Z, apalagi Gen Alpha. Asal ada artis dari ibu kota, dianggap cukup membuat masyarakat senang. Padahal zaman sudah berubah. Selera juga berubah.

Tantangan lain muncul bagi teman-teman kolektif dan pekerja seni lokal. Sponsor perusahaan sulit diraih, meski perusahaan berdiri di sekitar kami. Akhirnya proposal berputar-putar ke pengusaha muda yang sedang moncer juga peduli akan movement anak muda, patungan antara panitia atau berujung dengan kata “Kanda tolong dulu bantu kegiatan kami.”

Bagi event organizer mandiri, hitung-hitungan anggaran sering jadi mimpi buruk. Tiket pesawat pulang pergi Jakarta ke Tarakan untuk satu orang bisa menyentuh lima juta rupiah. Itu baru satu orang. Artis datang ga sendirian, ada crew, manajer, dan kebutuhan teknis lainnya. Biaya membengkak sebelum panggung rigging berdiri. Di sisi lain, ticketing seratus ribu dianggap mahal. Lima puluh ribu tidak menutup modal.

Begitulah getirnya menjadi anak skena di perbatasan. Kami ingin menikmati konser bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang ekspresi dan pelepas tekanan. Kami ingin menjadi penonton yang dihargai sekaligus hadirnya ekosistem kreatif yang sehat.

Karena di ujung negeri ini kami bukan kekurangan kreativitas. Tapi atensi yang berkeadian dan mungkin luput dari perhatian. Di Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dibuatkan kebijakan Otorita Batam agar setara, Papua dibuatkan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua untuk pemerataan.

Sedang kami di Kalimantan Utara yang berada diujung negeri seperti berada di belakangan halaman buku, yang mungkin di baca mungkin sudah lelah sebelum halaman akhir. Padahal anak Skena diperbatasan juga secara tidak langsung sebagai penjaga kedaulatan NKRI.

DAPAT BONUS senilai Rp 1.000 - Rp 10.000
setelah baca postingan di atas
dengan menyalin Kode Traffic di bawah ini

EEKNEI

...sedang mengarahkan Anda ke halaman Bonus Area

Post navigation

Previous: Agung; “Menceritakan reizim ini, Saya bisa buat 1 buku ratusan halaman!”
Next: Polisi Tangkap Pelaku Penggelapan Uang Penjualan Motor di Nunukan

Kabar Terkait

90dc9969-08cd-4f28-9fe7-c61b491b44d9
  • Ekonomi
  • Kalimantan Utara

Perjuangan Pemprov Kaltara Berbuah Hasil, Kementerian ESDM Gelontorkan Program Rp471 Miliar

rilisan.id 2026-08-05
ChatGPT Image 27 Jul 2026, 00.44.53 (1)
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Kalimantan Utara

Sinergi Pengawasan Diperkuat, BKAD Kaltara Dorong Pengelolaan APBD Lebih Akuntabel

rilisan.id 2026-07-23
c220b57a-0c35-41ba-a95d-1cc49b0e6b0a
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Kalimantan Utara

BKAD Kaltara Pastikan Pengelolaan Aset Daerah Tertib dan Akuntabel

rilisan.id 2026-07-20

Pencarian Populer

  • GHOST
  • BKAD Kaltara
  • BKAD Kaltara Pastikan Belanja Wajib Tetap Terpenuh
  • SCI
Rilisan © 2026 | MoreNews by AF themes.